May 05 2012
Perjuangan Kartini
Ngomongin tentang Kartini bisa kapan aja kan yaa ? Ngak hanya pas hari kartini aja, karena seharusnya perjuangan Kartini ada disetiap langkah kita sehari-hari.
Masih dalam rangka BloggerKartinian, kali ini saya mau cerita tentang sosok seorang yang bagi saya pribadi bisa mewakili seorang kartini.

Foto diatas adalah foto dari Ibu Desak Wati, seorang ibu rumah tangga biasa dengan 3 orang anak. Beliau membesarkan ketiga anaknya seorang diri karena suami tercinta sudah meninggal sejak anak bungsunya baru berumur 5 tahun.
Tak bisa kubayangkan bagaimana perjuangan beliau menghidupi ketiga anaknya ditengah himpitan ekonomi yang serba sulit. Belum lagi cibiran tetangga, hinaan bahkan makian.
Pekerjaan apapun mau beliau lakoni asal ketiga anaknya bisa makan. Mengais sisa rejeki dari orang memanen padi sampai memulungpun pernah beliau jalani. Kerasnya hidup menjadikan Ibu Desak mendidik anaknya dengan disiplin tinggi. Tapi cobaan memang belum berakhir, anak kedua nya tiba-tiba sakit yang tak diketahui sakitnya apa. Tak tahu apa obatnya sampai-sampai merenggut setengah akal sehat anaknya. Hingga kini, anak keduanya mengalami gangguan kejiwaan akibat sakitnya itu.
Ibu Desak bukanlah sosok yang mudah putus asa, dengan sisa-sisa kemapuannya dia masih terus merawat anak-anaknya. Dia juga sangat baik sama tetangganya, suka menolong walaupun dirinya sendiri kekurangan.
Hingga kini, ketiga anaknya sudah sangat dewasa. Yang tertua sukses dengan bisnis propertinya, anak ke tiga merantau ke negeri seberang. Sedangkan anak keduanya masih tetap menemani si Ibu.
Di masa tua nya sekarang, tentunya Ibu Desak sangat bangga melihat kesuksesan anak-anaknya dan kini hanya tinggal berdiam diri menikmati semuanya. Tapi tidak demikian dengan Ibu Desak, beliau bahkan menolak untuk tinggal di rumah mewah anaknya dan tetap memilih tinggal digubuknya yang sangat sederhana.
Mengenal Ibu Desak adalah suatu anugerah tersendiri buatku, bisa mendengar semua cerita dan keluh kesahnya membuatku bisa mempelajari banyak hal. Tentang arti hidup dan perjuangan. Sepenggal kata puisi pun tak kan cukup melukiskan bagaimana beliau
Ibu, Mungkin namamu tak seharum melati
Tapi aku tahu,hatimu suci tak ternoda
Tak peduli apa kata orang tentangmu
Bagiku, kaulah sang Kartini
Teruslah berjuang bu, karena semuua kontribusi yang engkau berikan untuk sesama tak kan pernah sia-sia
Article ini diikutsertakan dalam kontes #BloggerKartinian





