Lembayung jingga menggelayut di ufuk barat,kilaunya yang merah keemasan begitu mempesona. Sore itu langit begitu sempurna, mentari yang mulai meredup dan perlahan kembali ke singgasananya mampu memikat semua hati yang sedang memandangnyaa. Damai…sedamai suasana sore ini.
Tapi tak begitu dengan Lanang, hatinya sedih, teramat sedih bagai tersayat sembilu. Iya tak mengerti kenapa semua ini dia alami, kenapa harus merasa sesakit ini.
Kenapa sulit merasa ikhlas ?
Perlahan kilau kemerahan mulai menghilang berganti kemilau bintang dilangit, pertanda malam merasuki. Semua orang yang ada di pantai itu sudah pulang, tapi tak begitu dengan Lanang.
Dia tak bergeming,hatinya semakin perih. Bulir-bulir kristal mulai menetes dari matanyaa, Lanang berteriak sekencang-kencangnyaa memecah kesunyian malam itu. Dia menangis sesegukan, ini kali pertama dia menangis sejak 5 tahun yang lalu, sejak kehilangan saudara perempuannya.
Rasa kehilangan yang sama dia alami sekarang, tapi keadaannya berbeda. Sungguh berbeda. Rasa sakitnya juga beda.
Seketika dia tersentak kanget, seakan melupakan sesuatu. Sudah jam 10 malam, dia berlari menuju perkiran, menstarter motor R6 yang baru beberapa hari dia beli. Suara motornya maraung-raung mengusik ketenangan malam ini. Dia tak peduli, semakin kencang saja melaju di jalanan.
*****
Malam ini Ratih begitu cantik, secantik namanya. Mengenakan pakaian adat bali modifikasi, merah berpadu dengan coklat ternyata sangaat indah dipandang.
Apalagi parasnya yang memang cantik menambah daya pikat siapa saja yang melihatnyaa. Dia begitu anggun. Malam ini adalah resepsi pernikahannya setelah tadi pagi menjalani prosesi adat yang begitu melelahkan.
Meski lelah menggelayuti wajahnya tapi kebahagiaannya tak dapat disembunyikan. Dia merasa begitu beruntung, bersanding dengan pria yang baru dikenalnya beberapa bulan ini. Tapi hatinya mantap melangkah dan berani menerima lamaran sang pujaan.
Sesekali lelaki disampingnya memeluknya saat memperkenalkan dirinya ke teman ataupun relasi bisnisnyaa.
Rangga, pria sempurna yang beruntung menjadi pelabuhan terakhir ratih. Dia tak pernah puas memandangi wajah istrinyaa.
Ciiitttt….motor yang dikendarai Lanang berhenti tiba2. Terkutuk…batin Lanang dalam hatinyaa. Kenapa dia harus melewati jalan ini ? Dan kenapa pula dia harus berhenti tepat di depan rumah ini ? Tapi ternyata hatinya berkata lain, Lanang turun dari motornyaa..berjalan memasuki rumah megah di depannya, menyibak kerumunan orang-orang berpesta.
Matanya nanar memandang kedua mempelai,hatinyaaa panaas….perihh tak terhingga. Jari-jarinyaa menggepal keras menahan semua gajolak dalam dadanyaa, dia terus melangkah.
Menghampiri mempelai….
*****Bersambung

*****
Tags: langit, Lembayung Senja, sore