Jan 26 2011
Sebuah persahabatan
Rara membanting keras pintu kamarnya, membuat kaget bik Nah yang lagi sibuk ngeberesin rumah.
“Tumben non Rara udah pulang jam segini, pake banting-banting pintu segala” bathin bik Nah.
Rara kesal bukan main, hatinya sakit karena merasa dipermalukan di depan umum. Dan yang lebih bikin sakit, yang mempermalukannya adalah sahabatnya sendiri, Ajeng.
Sahabat yang dia banggakan selama ini, sahabat yang selalu mampu membuatnya tertawa dalam keadaan apapun. Rara benci Ajeng…dirobek-robeknya foto dirinya bareng ajeng yang selama ini menghiasi meja belajarnya,
“Aku ngak mau kenal kamu lagi Ajeng…aku benciii benciiiiii” Rara menangis sejadi-jadinya membuat bik Nah tambah bingung.
24 Januari 2011
Mata Rara bengkak karena semalaman menangis, tapi dia tetap memutuskan untuk ke sekolah. Seorang Ajeng tak kan bisa menghalanginya untuk meraih prestasi di sekolah dan apapun yang terjadi pada hatinya…pendidikan adalah tetap yang utama.
Selama pelajaran berlangsung Rara berusaha menghindari Ajeng, walaupun Ajeng selalu berusaha mengajaknya bicara.
Jam pulang sekolah Ajeng mengejar Rara yang sudah ada di dalam mobil jemputannya.
“Ra,please dengerin aku dulu….kemarin itu tak seperti yang kamu pikirkan, aku sungguh tak bermaksud seperti itu”
Rara tetap diam membisu…
“Ra, bicara donk….aku ini sahabatmu. Aku tak kan pernah nyakitin kamu seperti ini…Rara dengarkan aku duluu”
“Udahlah jeng, penjelasan apalagi yang mau kamu katakan ? semua sudah cukup…aku sudah tau semuanya, ternyata seperti itu kelakuanmu dibalakangku yaaa. Sahabat macam apa yang tega menikam sahabatnya dari belakang ?? Cukup…aku ngak mau tau apa-apa tentang kamu lagi, anggap saja kita tidak pernah kenal” Rara mulai kehilangan kesabaran.
“Demi Tuhan Ra, itu tak seperti yang kamu lihat…kamu sudah terhasut omongan mereka”, Ajeng masih berusaha memberi penjelasan.
“ayo pak jalan…” Rara memberi perintah pada sopirnya untuk menjalankan mobilnya
Sementara Ajeng mulai panik “Rara…tunggu dulu, jangan pergi dulu….dengerin aku dulu…Raraaaaaaaaa……….
Ajeng menjerit kerass dan seketika terdengar suara benturan keras. Rara menoleh ke belakang, dilihatnya sepeda motor jatuh dan tubuh Ajeng tergeletak bersimbah darah.
Rara memeluk tubuh Ajeng yang masih tak sadarkan diri, dia tak menyangka semuanya akan seperti ini. Rara menyesal kenapa dia begitu keras sama Ajeng.
Hikmah :
1. Dalam persahabatan itu wajar ada perbedaan pendapat, namun jangan jadikan itu sebagai alasan untuk saling membenci.
2. Sebelum menghakimi seseorang bersalah atau tidak, hendaknya kita memberikan dulu kesempatan untuk memberikan penjelasan karena bisa saja kita salah menduga.
3. Memaafkan tentunya lebih mulia daripada memendam amarah
Artikel ini diikut sertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp








